Senin, 07 Desember 2015

Kereta Api Anakku

Suatu siang, setelah perjuangan menidurkan si bocah tidak membuahkan hasil:
"Äyo le, kita ke mol aja kalau ngga mau bobo'," Padahal di benakku ragu, mau ngapain ke mol.
Mbuhlah. Saya, wafy dan emak pergi juga.
Hingga motor melaju mendekati Kalibata mall, saya masih berpikir mau ngapain ke sana.

"Mak, kita naik kereta aja yuk mak," usulku tiba-tiba.
"ya terserah ibuk" 
okesip. 

Sebelumnya, hari Sabtu, saya menjanjikan Wafy naik kereta kelinci yang biasa keliling Tegal Parang sore hari. Dan saya memang tidak bermaksud berbohong. Tapi apa mau dikata, setelah lama menunggu di pertigaan dan setelah berkali-kali wafy kucegah naik delman, ketika kereta kelinci tiba, kami kalah berebut naik. See? penumpang ibu2 lebih ganas. Dan sebagai wanita, saya kurang dalam hal ini. Kemahiran intersepsi. Karena cuaca mau hujan, saya ajak wafy keliling sebentar naik motor kemudian pulang. Terlihat wajah anakku kecewa. Oh le, ibuk tidak bermaksud membohongimu.

Makanya, ketika siang itu motor kuarahkan ke stasiun Kalibata, instead of ke Kalibata mall, saya justru lebih bersemangat. and,,,so did Wafy. 
"keetaaaaa...ketaaa tungguuu ketaaaa...!!" teriaknya girang bukan main melihat komuter lalu lalang di depannya. Bocahku yang tidak sabar menanti saya memarkir sepeda motor dan mampir alfamart, terus saja berteriak tunggu-kereta-naik-kereta sampai suaranya serak.

Kami naik commuter line jurusan Jakarta Kota. Sudah terpikir rutenya di benakku. Turun di stasiun Juanda, naik bajaj ke monas, lalu pulang lagi naik kereta. Sepanjang perjalanan wafy begitu bersemangatnya berceloteh, tentang Thomas, Emilie, James, tokoh kartun dalam serial Thomas and Friend. Wafy, seperti halnya banyak anak-anak, sangat kagum dengan moda transportasi massa yang satu ini. Semuuua yang berhubungan dengan kereta api, baik lokomotif, rel, sampai pengawas stasiun begitu menarik perhatiannya. 
Belum habis exciting nya Wafy. Sampai Stasiun Juanda, kami keluar dan mendapati bajaj berjajar di tepi jalan. Waaaa, waaaa, bocahku berlarian tak sabar ingin naik bajaj. Saya dibuatnya ngos-ngosan menahan tubuh gempalnya, sementara Emak sholat ashar di mushola stasiun.

Trrrong tong tong tong....bajaj melaju. Anakku tidak mau dipegangi, Dia mau menikmati bajaj nya sendiri. haha...

Nahhh, sampailah depan monas. 
Krik krik. Wafy tidak mau turun dari gendongan. Itu artinya dia sedang tidak happy. Maybe he wanted bajaj more. Beberapa lama kami jalan di pelataran monas, sambil melihat-lihat kalau ada makanan yang bisa dibeli. 
Jujur, saya tidak kuat berlama-lama menggendong Wafy. Yasudah kita pulang aja yuk, ajakku pada akhirnya. Toh wafy sudah puas naik kereta dan bajaj. Monas enggak penting sama sekali. Iyalah, ini rekreasinya Wafy. parameter menyenangkan tidaknya sebuah perjalanan adalah dia seorang. Kami keluar berniat mencari taksi atau bajaj menuju stasiun, ketika sebuah bus tingkat melintas pelan di depan kami ketika menunggu angkutan ke stasiun. olalaa...senyumku mengembang.

ini diaaaaa CITY TOUR....
bus pariwisata keliling pusat kota Jakarta. 
Dengan kemurahan Allah, kami bisa dapat tempat duduk di atas, paling depan pula. Di bus ini tidak diperkenankan ada penumpang berdiri. Kalau tidak kebagian tempat, silakan turun dan menunggu armada selanjutnya. Rejekimu, nak. 
Heranku, wajah Wafy yang tadi murung di depan monas kembali sumringah. Bla bla bla blaaaa,,,,semua objek di luar bus menjadi sangat menarik baginya. Kami melintas di jalan thamrin, menyisir konstruksi MRT. Karena kami duduk di lantai 2 bus, pemandangan crane, eskavator, buldozer, truk, dan para pekerja konstruksi terlihat jelas. Kembali wafy berteriak-teriak Jack, jack buk...jack... PS: Jack adalah kawan Thomas, sebuah buldozer. Bus ini sangat rekomended untuk wisatawan yang ingin menikmati Jakarta. Kemudinya pelan, sehingga siapapun yang ingin mengabadikan pemandangan Jakarta bisa dengan leluasa memotret. Bus berjalan di sepanjang MH Thamrin, Medan Merdeka, Memutar ke Lapangan Banteng. 
Sayangnya kami tidak sempat berfoto. Low battery.
"Di depan turun yuk, le" 
"di bis aja.., buk" sahut wafy. Agak lama berpikir cara agar dia mau turun.
"naik kereta??" bujukku. 
Dan memang bus sudah sampai di halte tepat di seberang stasiun Juanda. Melihat sebuah rangkaian kereta melintas di atasnya, Wafy akhirnya mau turun dari bus. Alhamdulillaaah, saya pikir kami bakal pulang malam. 

Meski sederhana, we enjoyed the trip so much. Dari semua rekreasi bersama Wafy, kusimpulkan bahwa dia hanya menikmati perjalanannya saja. Hal ikhwal naik kendaraannya saja. Kereta, bis, bajaj, motor, pesawat, dia terlihat gembira ketika berada di atas kendaraan kesenangannya. 
Dan sebagai ibu ekonomis, perjalanan kemarin super hemat dibanding kalau kami jadi nge-mol. Commuter line bertiga PP hanya Rp12.000, Kalibata-Juanda. Bajaj hanya Rp20.000, ngebutnya asik. Bus city tour? hmm, gratisss. Plus plusnya ayam goreng CFC sama rotiboy, tak tahan lapar boi..

Liburan kami ditutup dengan berhujan-hujanan menjelang maghrib dalam perjalanan Kalibata-rumah.
Alhamdulillaah,...

Minggu, 29 Maret 2015

Sabtu ini: Saatnya bekam,

Bismillaah,


Akhirnya sabtu (280315) kemarin saya menyempatkan diri terapi bekam. Ini sharing ya kawan, barangkali ada yang punya kecenderungan penyakit yang sama dengan ini.

Jadi, saya punya bakat biduran, gatel bentol yang dipicu oleh hal entahlah. Loh. Iya, saya belum tau apa pemicunya. Bakat ini muncul sejak saya tinggal di Tangsel dalam rangka kuliah, berlanjut sampai sekarang. Saat itu, pas ada kesempatan liburan di kampung halaman, saya periksakan kondisi tersebut ke dokter di puskesmas kota. Apa katanyaaaa!?

"solusinya apa dok?" tanya saya lugu
"solusinya yaaa, rajin mandi." kata bu dokter tanpa melihat saya.

Note besarrrr untuk kawan2 ku yang sekarang dokter, tolong berempatilah pada pasien2 anda, daripada kami harus mengungkit ungkit di mana dulu anda kuliah kedokteran dan curiga anda mbayar mahal supaya bisa lulus padahal tidak qualified. Plis, penting banget. Kalau capek mending pulang, gak usah nerima pasien.

Baiklah lupakan bu dokter puskesmas kota. Kesempatan kedua, pas biduran kambuh lagi, saya periksa ke dokter dekat kost, di daerah Ceger, Jurangmangu. Agak lebih lega, menurut beliau, alergi saya disebabkan menurunnya imunitas tubuh. Memang kalau ditelusuri, saat tubuh sedang drop, mulai lah kulit menebal, di beberapa bagian bentol, argh, tidak enak rasanya. Saya pikir, drop nya itu disebabkan oleh alergi, rupanya sebaliknya. Saya diresepi obat penguat sistem imun.

Yang paling saya ingat, bakat alergi muncul dengan hebatnya di bulan-bulan pertama kehamilan saya. Agak beda penampakannya dengan ketika kuliah, gatalnya luar biasa dan tidak bentol, melainkan bercak merah pada kulit, seperti bekas terbakar. Saking hebohnya saya garuk, sampai lecet-lecet betis dan lengan. Sayangnya bulan-bulan pertama tersebut merupakan masa asupan gizi saya minimal, karena sindrom mual muntah. Jadilah saya bersabar saja, semoga bisa sembuh sendiri,
Sembuh memang, setelah bayi kami lahir. Haha. nangis. lama ya.

Nah, minggu lalu, biduran itu muncul lagi. Pertama karena flu, kedua karena suatu acara yang membuat maag saya kambuh lumayan parah. Tidak usah diceritakan lah acara apa itu. Perut sakit karena terperangkapnya gas lambung, mual, pusing lemas, dan...gatal badan ini. Sempurna. Suami saya pun berinisiatif mengantarkan saya ke tempat bekam, masih teman sendiri, di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Singkat cerita, menurut terapis bekam, kunci utama kesembuhan alergi semacam ini adalah asupan vitamin C, which is penting sekali dalam menjaga daya tahan tubuh. Darah kotor juga bisa berawal dari paru paru kotor, nah ini, kebiasaan berkendara di jalan raya tanpa memakai masker mungkin salah satu sebabnya, Tingkat stress makin memperbesar potensi alergi kambuh lagi. Kelihatan otot sekitar tulang leher saya kaku. Saya memang lebih suka diam dan menahan marah untuk menjaga perasaan orang lain. Pada beberapa hal, cara berpikir saya harus diperbaiki. Keeeeppp positive thinking. itu aja lo padahal. Selesai dibekam, terapis menyediakan madu dan habbatussauda untuk saya minum. Tiga kapsul sekaligus. Feel better. 

Alhamdulillah, 
meski sabtu-minggu ini tidak bisa puas bermain bersama anak, tapi Allah memberikan waktu istirahat yang sangat panjang. Qadarullah tahsin diliburkan. Senin ini, meski masih agak mual (efek maag kambuh bertahan agak lama), saya berani ke kantor bersepeda motor lagi.

Have a wonderful week kawan, keep positive thinking.

Jumat, 16 Mei 2014

Wal Yatalatthof

gambar: koleksi pribadi
Kawan, pernah nggak baca Mushaf Alquran cetakan lama, cetakan Indonesia, yang hurufnya keriting, yang pada awal juz font baris pertama underlined? Sayang saya gak punya fotonya. Kalau sudah ketemu kapan2 saya edit ya tulisan ini.
Uniknya mushaf tersebut, ada tanda merah pada border halaman mulai ayat ke lima belasan surah Al Kahfi. Merahnya diperjelas lagi dengan font tebal pada kata "Wal Yatalatthof".

Jadi begini, ada beberapa cerita masa kecil kami (saya dan kakak).
Saat itu saya masih lugu. Abang saya cerita, tentang sejarah tanda merah itu. Saya mendengarkan dengan sepenuhnya, sekaligus mempercayai sepenuhnya.

Dulu kala, ada seorang prajurit yang sedang membaca Al Quran. Ketika sampai pada ayat 19 pada lafadz "Wal Yatalatthof" dia ditusuk dari belakang dengan pedang. Jleppppp.... (begitu Abang saya mengilustrasikan). Muncratlah darah akibat tusukan pedang tersebut membasahi Mushaf yang sedang dia baca tepat pada lafadz "Wal Yatalatthof". Wal yatalatthof jleppp...

Saya benar-benar mempercayai sejarah itu sampai saya lumayan besar lo...dan sejauh yang saya ketahui, sejarah itu dikarang-karang saja sama Abang. Font merah pada lafadz tersebut hanya sebagai tanda pertengahan Alquran. (cek disini--- http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-kalimat-walyatalaththof-dalam-alquran-berwarna-merah)
Ilustrasi 'jlepp' pun sering saya ulang-ulang kalau kebetulan membaca ayat ini. Maklum, anak kecil. :))

Selain cerita karangan abang, ada banyak cerita yang dicekokkan orang-orang dewasa kepada anak-anak semasa saya kecil. Bahwa kalau kita menelan biji semangka suatu hari dari kepala kita akan tumbuh pohon semangka, bahwa semburat merah di langit pada petang hari adalah buto (raksasa) yang akan memakan anak-anak, bahwa kalau makan sambil tiduran nanti bisa menjelma jadi ular, dan lain lain...macam-macam.
Kalau saya bilang sih, beberapa dari cerita tersebut merupakan cara orang-orang tua zaman dulu mencegah anak-anak mereka berbuat hal-hal yang tidak terpuji, cara jitu mengarahkan akhlaq. Minimnya informasi justru membuat nilai-nilai yang ditanamkan via cerita fiktif dan ngarang abis itu perfectly internalized. Apa coba sumber pengetahuan anak kecil jaman saya? televisi? wong sampai saya SD kami masih pakai petromaks sebagai penerangan malam hari. Majalah? saya (yang notabene alhamdulillah paling maju bacaannya dibanding bacaan anak-anak tetangga) cuma punya koleksi Bobo dan majalah memasak ibuk. Apalagi internet....ini serius, saya baru bisa menyalakan komputer saat duduk di bangku kelas dua SMP.

Saya bukan bermaksud mencap metode parenting kala itu keliru, tidak. Buktinya 'produk' yang dilahirkan dan besar pada zaman pra internet relatif lebih berakhlaq daripada anak zaman sekarang. Maaf ya internet...harus saya bikin jadi kambing hitam kamu.

Menurut psikolog, yakni orang-orang yang lebih pintar dari saya dalam masalah beginian, usia 0-2 tahun merupakan periode emas anak. Stimulus yang diberikan pada masa itu berperan penting dalam membentuk intelegensia. Sigmun Freud malah bilang kalau masa itu berlangsung sampai dengan usia lima tahun.
Makin oke stimulus kecerdasan yang diberikan orang tua kepada anaknya, makin baik perkembangan intelegensianya. Stimulus kecerdasan ini bukan melulu soal IQ, namun juga EQ dan SQ. Tentang istilah  'kyu kyu-an' ini silakan gugling ya kawan.

Jika orangtua berharap anaknya pinter matematika, bagusnya sering kasih mereka permainan yang merangsang otak kirinya bekerja. Misal "nak, ini ibu lagi nyuci sepuluh buah piring, tiap habis dicuci piringnya kamu yang bilas, kalau ibu selesai nyuci separuh, berarti berapa buah piring yang harus kamu bilas?" atau yang lebih ekstrim ketika seorang bapak sedang bersiap menendang bola, dia berteriak ke anaknya yang sedang menjaga gawang, "nak kira-kira berapa derajat sudut tendangan yang harus bapak bikin supaya dia nyasar tepat di tengah gawang?".
Tentu, banyak lagi yang lebih pintar dari saya untuk masalah ini. Hohoo...

Kembali ke wal yatalatthof,
kisah atau dongeng anak saat ini mungkin dianggap ketinggalan jaman. Orangtua masakini lebih memilih memasukkan anak-anak ke kelompok bermain sejak usia sangat dini. Lalu di rumah mereka difasilitasi dengan mainan-mainan edukatif, televisi kabel yang menayangkan tontonan berbahasa asing, macam-macam lah pokoknya...tapi melupakan cara tradisonal yang harus melibatkan komunikasi intim orangtua/orang dewasa pada anak, face to face, dua arah, dan frekuensi yang berulang. Yakni, bercerita.

Kalau kisah karangan abang tentang sejarah merahnya font wal yatalathof saja bisa merasuk ke dalam pikiran masa kecil saya, kenapa tidak, orangtua atau orang dewasa menciptakan kisah-kisah yang membangun jiwa. Dengan bercerita, kita bisa melihat ekspresi mereka, terkejut, takut, kagum, bosan. Dengan bercerita kita juga bisa melihat langsung respon mereka, ngulet pengen pergi atau pertanyaan-pertanyaan lugu tak berujung. Khusus untuk yang terakhir, ada lo orang-orang berusia tua (saya emoh menyebut orang tipe ini dengan kata 'dewasa') yang benci dengan anak-anak cerewet. Nah dalam rangka menghindari kecerewetan anak, mereka memilih untuk menyediakan saja fasilitas yang tidak memungkinkan komunikasi dua arah. Tayangan di televisi atau video misalnya.
Padahal...Cerewetnya anak adalah dalam rangka ingin tahu, meski terkadang pertanyaan mereka aneh dan tidak berujung.

*Bercerita tentang kancil*
Kancil itu apa?
binatang berkaki empat dek...bentuknya kayak rusa
rusa itu apa?
rusa itu yang punya tanduk dek
tanduknya mana?
itu dek, yang di kepala melengkung melengkung
buat apa?
Buat pertahanan daris serangan musuh dek,

(diam sesaat, si kecil bingung mengeja kata per-ta-ha-nan, lalu melontarkan pertanyaan tidak nyambung)

makannya apa?
kancil punya mama nggak?
Kok kancil nggak pake baju?
Kancil mandinya dimana?
dan seterusnya dan seterusnya...

Tidak ada larangan kok mengarang cerita fiktif. Toh anak akan percaya apapun yang dia dengar dengan takzim. Anak tidak terlahir langsung tahu cerita kancil nyolong timun kok, jadi jangan khawatir dianggap penipu kalau kita mengarang cerita kancil sedekah timun. (Untuk ide ini, saya beruntung punya Abu Wafy :-*)
Dan kebiasaan sedekahnya si Kancil yang diulang-ulang akan perlahan membentuk pribadi si anak. Apalagi jika interaksi anak dengan teknologi informasi dikontrol bener-bener. Nanti ketika dia dewasa dan tidak sengaja menemukan kisah Kancil Mencuri Timun di buku, dia akan punya alarm tolak tersendiri, dan pastikan kita bersedia melayani pertanyaan mereka kenapa kancil mencuri.

Mengajari anak seperti menulis di atas batu,
Jadi, pastikanlah bahwa kebaikan saja yang terukir di dada anak-anakmu.





Senin, 12 Agustus 2013

Post Ramadhan: Kurma




Sabtu pagi, lebaran ke tiga, kami sudah sampai di Jakarta. Pintu terbuka, salam teruluk kepada para 'penjaga' kontrakan selama seminggu kami pulang kampung. Alhamdulillaaaah....aku menghela napas panjang. Pandanganku mengitari segala sudut ruangan.

Sekotak kurma ajwa' yang selama ramadhan kemarin menjadi andalan takjil, tergeletak di karpet. Isinya tinggal seperempat penuh. Ada perasaan ganjil di satu ruang jiwa.

Duhai, 
kenapa selalu sesal yang melepas Ramadhanku setiap tahun,

Apakah yang tersisa darinya?
Akhlakku begini-begini saja,
Al Quran kupegang sekedarnya saja,
 di sela canda tawa bersama kerabat yang lama tak berjumpa

Duhai,
Khusyu' malam-malam ramadhanku cepat sekali berganti
idul fitri, begitu dalihku, sibuk anjangsana,
Disiplin sholat malam ramadhanku, kalah lagi oleh capek perkara duniawi,
Aku jadi lebih antusias memilih pakaian untuk silaturrahiim,
daripada memutar radio dan memilih channel pengajian
 

Apakah yang terisa dari ramadhanku?

Diceritakan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ”... Sungguh celaka seseorang yang mendapat bulan Ramadan, dan ia pun keluar (dari bulan suci tersebut) sementara dosanya masih belum diampuni oleh Allah SWT. Dan sungguh celaka seseorang yang masih memiliki orangtua renta tapi posisi tersebut tidak membuatnya masuk surga. (HR Tirmidzi)
Duhai, akukah salah satu yang tersebut dalam sabda Nabi itu?

Kuambil sebutir kurma, kucicip lagi manisnya, sambil membayangkan terakhir aku pulang kerja masih menemui keramaian pasar dadakan jelang berbuka di jalan pancoran barat. Puji-pujian dan sholawat bersahut dari corong mushola dimana-mana.

Inilah, yang tersisa dari Ramadhanku tahun ini. sekotak kurma.

Senin, 22 Juli 2013

Ini Pelajaran Tentang Ajal.

Sabtu kemarin, melalui telepon, ibu mengabarkan kematian seorang tetangga.

Suami yang dipanggil ke haribaan Ilahi. Suami ini lama merantau ke Papua. Ketika berkesempatan pulang kampung menjenguk keluarga, Allah memanggilnya.
Istri yang masih muda. Aku tidak tahu pasti, sekitar empat tahun lebih muda dari usiaku, tapi anaknya sudah berusia dua tahun. Menikah saat usianya masih delapan belas atau sembilan belas.
Suami yang malang. Bermaksud merenovasi rumahnya yang masih setengah jadi, sebongkah beton rubuh menimpanya, merusak tengkorak kepala, menggenang darah ke mana-mana. Istri dan anak harus menyaksikan yang tercinta pulang ke rumah yang sebenarnya.

Ini pelajaran tentang ajal.
Hari ini kita punya banyak hal yang kita cintai, kita bersamanya/mereka, kita menikmatinya/mereka, kita diperhatikannya/mereka.
Padahal sebenarnya apa yang kita punya. Tidak ada yang bisa kita perbuat kalau sewaktu-waktu Yang Mempunyai Segalanya mencabut satu dari sekian banyak itu.
Apakah kematian hanya milik orang yang sehari-hari bergelut dengan risiko tinggi? Big No. Allah sudah banyak menghentikan denyut jantung manusia yang sebelumnya tampak sehat bugar. Tanpa permisi pasti. Tanpa tanya sudah siap atau belum.
Helm, kecepatan normal, bahkan lalu lintas tertib tidak menutupi kemungkinan malaikat maut mengintai seorang pengendara. Sang Maha Pengatur punya tak hingga cara yang terkadang tidak terjangkau akal manusia untuk mendatangkan kematian. Ruangan berpengatur udara, dijaga satpam terlatih, bukan penjamin selamatnya manusia dari ajal kala tiba.
Siapa yang menyangka seorang siswi akan tewas usai hukuman squat jump, yang normalnya  tidak mematikan? Apakah ada yang meramalkan kematian seorang wakil rakyat yang populer sebagai penyuka olahraga, bahkan sesaat setelah mendiang bertanding olahraga bersama kawan-kawannya? Berapa banyak orang yang terkejut mendengar pada suatu pagi sang ustadz idola telah tiada? terkejut, karena tidak ada yang menyangka.
Beruntunglah yang kematiannya datang dengan pertanda. Sakit misalnya. Sungguh, mereka jauh lebih beruntung. Allah memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum pantas menghadap Ilahi.

gambar diambil dari sini

 
Ini pelajaran tentang ajal.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. QS. Al-'A`raf [7] : 34

Senin, 20 Mei 2013

Ibu. Kesekian kalinya.

gambar diambil dari putramalawi.wordpress.com
Kalau kamu mengira bisa membalas kebaikan ibumu, plis ambil ruang dan waktu khusus untuk berpikir kembali.

Cinta ibu tidak akan dapat dibayar dengan gelar sarjanamu. Apa yang kau banggakan? jerih payahmu memperoleh nilai? atau bahwa selama tiga, empat atau lima tahun kau sendiri yang memeras otak dan tenaga (mungkin) demi selesainya studi?

Ibumu tidak akan berhenti mengkhawatirkanmu, meski kau sudah punya pasangan hidup, bisa membiayainya naik haji, sudah membuatkannya rumah indah, sudah punya usaha yang akan menghidupimu hingga anak cucu.

Berhentilah membandingkan kemuliaannya dengan kelebihan yang kau berikan. Harta, gelar akademis, menantu terbaik, cucu yang sehat dan lucu, jabatan atau popularitas yang secara tidak sengaja membuatnya ikut tenar.

Siapa kamu yang lupa menghubunginya dengan alasan sibuk, bahkan membayar orang untuk menjaganya saat sakit atau lemah oleh renta usia? Malulah kau sebagai darah dagingnya tapi membiarkannya sepi menghabiskan sisa usia dalam pengawasan tetangga.


Minggu, 30 Desember 2012

Jodoh dan Bahagia


Jika laki-laki adalah angka 3 dan wanita adalah angka 2,
kombinasi matematis keduanya bisa menjadi banyak hal

kita yang memilihnya.

Penciptaan manusia adalah misteri Illahi, demikian pula penyatuan dua manusia. 
Tentang permisalan berikut ini, apa yang kalian pikirkan?
Seorang wanita cantik dari keluarga baik-baik, cerdas dan berpendidikan, menikah dengan laki-laki tampan, dari keluarga yang terpandang, mapan dan berwawasan luas. Siapa yang pertama kali akan mengatakan bahwa mereka berbahagia? Kata saya, semua yang mendengar berita pernikahan mereka.
Seorang perawan tua berusia empat puluh tujuh tahun, kaya, menikah dengan pemuda berusia dua puluh dua, baru merintis usaha. Keduanya bertemu dan bersepakat menyatu dalam kerelaan. Siapa yang pertama kali akan mengatakan mereka bahagia? Mungkin tukang rias pengantinnya saja.
Seorang pemuda, I mean, benar-benar muda. Berbekal ijazah SMP dan KTP yang baru jadi dua tahun sebelumnya, dia memberanikan diri melamar kekasihnya yang lulusan SD dan baru melalui ulang tahun ke tujuh belasnya. Mapan? sama sekali belum. Sang pemuda bahkan belum mempunyai penghasilan sendiri. Lalu siapa yang akan yakin dengan kebahagiaan mereka? boleh jadi, hanya mereka berdua.
Silih berganti di televisi, berita perpisahan orang-orang ternama. Saya, pada awalnya berpikir mereka adalah pasangan-pasangan terbaik, dan berharap akan langgeng sampai mati. Bukan tanpa alasan, jika stabilitas rumah tangga diukur dengan kemapanan suami dan kecantikan istri, maka pasangan-pasangan yang diberitakan bercerai itu adalah contoh ideal. Kabar tidak sedap mengenai pernikahan yang hancur datang pula dari keluarga yang latar belakang agamanya bagus. Padahal tadinya keluarga ini sempat menjadi ikon kebahagiaan rumah tangga dan menjadi contoh bagi masyarakat.

Terlepas bahwa kehidupan memang sarat ujian, saya kemudian menganalogikan dengan persamaan matematis. Sangat bisa didebat, toh yang saya inginkan bukan pembenaran. Jika laki-laki bernilai 3 dan wanita bernilai 2, penyatuan mereka akan menghasilkan nilai baru, dan bisa beraneka ragam. Bisa jadi sembilan, delapan, enam, lima, satu setengah, satu, duapertiga, atau....minus satu. 
Sembilan adalah gambaran hasil penyatuan yang melejitkan potensi masing-masing individu. Fungsi 'pangkat' boleh jadi adalah rasa saling memahami, melengkapi, saling mendukung dan mengingatkan, kasih sayang, dan  'saling-saling' yang lain yang membaikkan (meminjam istilah MT).
Atau bisa jadi satu setengah hingga minus satu. Maka fungsi 'bagi' dan 'kurang' bisa disamakan dengan sikap intoleransi, kurangnya perhatian, egoisme, bahkan saling menyakiti. Tiga dan Dua akan berakhir menjadi nilai yang lebih rendah dari masing-masing pada awalnya.

Tuhan tidak akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang tidak bisa kita pilih sejak lahir. Warna kulit misalnya, bentuk mata hidung bibir, termasuk kondisi di mana dan oleh siapa seseorang dilahirkan. Selebihnya, manusia memilih jalan masing-masing. Terlahir bernilai 'Tiga' atau 'Empat' atau berapapun, Tuhan lah yang memilihkan. Pun dipertemukan dengan pasangan bernilai 'Dua', 'Tiga', atau berapapun, Tuhan sudah menggariskan sejak manusia dalam kandungan.

Keberhasilan mengelola cinta, jika boleh saya menggunakan kosa kata 'bahagia', bukan tergantung pada apa yang disatukan, melainkan bagaimana keduanya disatukan. Dari ketiga contoh di atas, mulai dari pasangan ideal di mata banyak orang hingga pasangan paling absurd dalam pandangan orang, bisa saja bahagia seluruhnya, bisa juga yang paling absurd adalah yang paling bahagia. Pasangan muda dan belum punya modal apa-apa tapi berhasil mempergunakan fungsi 'pangkat' sebagaimana analogi saya, who knows suatu hari justru menjadi keluarga sukses, secara materi maupun immateri. Meskipun, menyitir pendapat Cahyadi Takariawan, bahwa bahagia itu adalah kosakata ruhani. 

Tentang jodoh dan bahagia, siapa bilang semuanya terjadi begitu saja.

Jodoh sudah dipilihkan, sedangkan bahagia, kita yang memilihnya