Kamis, 16 Agustus 2012

Kita, Do'a, dan Realita


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.”
"Aku pengen kuliah di manapun asal yang nggak ada hubungannya sama ekonomi."
"Ya Allah, tempatkan aku di manapun di Indonesia asal bukan Jakarta."
Cemen, aku harus menertawakan diri jika mengingat pernah terbersit dalam pikiran untuk berhenti saja berdo'a. Toh Allah sudah menyiapkan skenario untuk semua makhlukNya. Lihat saja, STAN dan Jakarta dipilihkan Allah untukku. Hah..., betapa ecek2nya kualitas ruhaniku hingga kubaca:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
[1326]. Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku
Seorang kawan bertanya apa yang harus dilakukan jika do'a tidak terkabul, sedangkan sabar itu luarbiasa sulit. Ujian yang dia alami jauh lebih kompleks daripada sekedar sekolah jurusan apa kerja dimana macam yang pernah kukeluhkan. Rasanya tidak pantas aku menjawab ala ustadz, karena faktanya sabar akan terkabulnya do'a sering terlupa, meski teorinya jelas, sebagaimana hadits di atas. 
Akupun mengumpulkan segenap hatiku untuk menjawabnya melalui pesan singkat. haruskah? ya, datang dari hati akan sampai pula ke hati. Begitu pikirku.
Jika manusia bisa mendapatkan semua yang diinginkannya, mungkin dia berhak menggantikan posisi Tuhan. 
Demikian bunyi pesanku.
Lantas aku merenungi sendiri jawaban yang kubuat. Tidak ragu, Allah sayang pada kita. Dia tidak ingin kita menjadi hamba hina yang lupa, bahwa makhluk adalah sesuatu yang terbatas. Ketika manusia mulai menginginkan banyak hal, Allah kasih peringatan, hey...kamu...jangan lupa Tuhanmu, yang segala keputusan tentang hidup ada di tanganNya. 
Ah, bahkan sampai di sini aku masih belum bisa memahamkannya, seperti apa seharusnya sikap ketika berdo'a. Jika Allah menjanjikan akan mengabulkan do'a-do'a, seorang hamba harus yakin, optimis, percaya diri. Sedangkan pada kenyataannya Allah tidak selalu mengabulkan apa yang dipinta. Adakala ditunda, kadang dihindarkan dari bahaya yang setara dengan pengabulannya. Lalu? wajar dong, jika terselip pikiran 'gimana kalau' usai berdo'a, yang pada taraf tertentu bisa mengaburkan keyakinan seorang hamba.
Bagiku -dan semoga temanku juga mengerti kemudian- kebodohan, kelemahan, serta segala keterbatasan manusia cukup untuk menjadi penjelasan kenapa tugas kita hanya berusaha dan berdo'a. God will do the rest. Kalau ilmu manusia dijadikan seluas bumi langit, kemudian bisa mengetahui mana yang baik bagi dirinya di masa depan, bolehlah dia protes kenapa do'anya tidak terkabul. Painful? mungkin iya. Demikianlah baja dijadikan tajam melalui tempaan luarbiasa. Kalau boleh memilih, semua ciptaan akan memilih untuk hidup dengan baik tanpa kesulitan. Tapi itu bukan cara untuk menjadi kuat. Silakan menyangkal, namun aku percaya kekuatan pada ciptaan hanya bisa terjadi dengan latihan, dengan uji coba, latihan lagi, uji coba lagi, hingga nampak kualitas tertinggi yang bisa dicapai. Allah hendak meninggikan derajat sebagian dari kita, maka dibikinlah mekanisme tempa-uji coba dan seterusnya.
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS Muhammad: 31)
Aku merenung kembali. Sabar. I got it, inilah sebenarnya yang dipertanyakan temanku. Dia hanya ingin tahu bagaimana bersabar, dirasa sulit untuknya. Oh, kalau itu akupun demikian kawan. Sabar pun termasuk ujian. Mungkin, ini semacam final exam di samping ikhlas. Penyabar yang ikhlas mengabdi pada Allah bisa memperoleh nilai tinggi di hadapanNya.
Sabar terhadap pengabulan do'a, kemudian ikhlas menerima realita yang ternyata berlawanan dengan apa yang diminta, is really a hard thing to do.
Diantara kita dan realita, ada do'a, temanku. Di balik itu semua, Allah berkuasa.
Ujian ini hendak membuatmu jadi manusia kuat terpilih.
Tutupku. Semoga aku selalu mengingat nasehat yang kukirimkan padanya.

Rabu, 15 Agustus 2012

Laporan Kegiatan Bulan Berbagi

Alhamdulillaaah,

hanya kata itu yang bisa terucap, sepulang kami dari Panti Yatim Indonesia Tebet. Tersampaikannya donasi barang ke panti asuhan tersebut menandai selesainya tugas kami sebagai perpanjangan tangan para dermawan dalam project Bulan Berbagi.
Siapa yang sangka, kegiatan yang tadinya saya pikir sederhana saja, melibatkan satu dua orang, dengan dana kecil, ternyata dalam pelaksanaannya sungguh di luar dugaan.

Sehari setelah saya memposting ide Bulan Berbagi di blog kemudian men-share di beberapa situs jejaring sosial, beberapa sms masuk menanyakan perihal project tersebut. Sehari setelahnya, beberapa sms masuk untuk konfirmasi transfer donasi. Yang berkesempatan bertemu langsung, tidak sedikit yang menyerahkan donasi tunai. Subhaanallaah....saya salut dengan quick response teman-teman.

Project A: Bagi Takjil

pita pink untuk takjil yang manis ;)
she got something for break fasting...
makasih kak...
Project pertama adalah bagi takjil anak jalanan dan pemulung di sekitar Pancoran-Tebet. Seperti telah saya ungkapkan di atas, berhubung donasi yang terkumpul di luar dugaan, yang tadinya saya hanya membayangkan akan membuat 20 paket takjil saja untuk dibagikan kepada anak jalanan di Simpang Tugu Pancoran, pada akhirnya terdistribusilah 200 paket takjil kepada anak jalanan, pemulung orang-orang yang sedang berada di jalan menjelang magrib, serta tentunya kepada beberapa orang yang telah ikut membantu proses penyediaan takjil. 10 kali lipat kawan!! Dengan 5 personil pembungkus takjil serta 8 personil pembagi, ternyata paket tersebut baru bisa habis terbagi dalam dua kali jalan. Sore tanggal 4 Agustus serta 5 Agustus 2012.




Project B: Buka Bersama Panti Asuhan


Kepadatan jadwal Panti Yatim Indonesia Tebet mengharuskan project buka bersama dialihkan ke Panti Asuhan di Condet, Cililitan asuhan Hj.Masnah. Relawan bertambah teman-teman dari Jakarta Pusat serta dari Cililitan sendiri. Salut saya untuk kedua kalinya dengan kerja keras mereka.

11 Agustus 2012, dimulai jam 5 sore, acara dimulai oleh Ketua Yayasan. Sayangnya, karena satu dan lain hal, beberapa panitia termasuk saya, terlambat hadir di TKP sehingga dokumentasi kegiatan kurang maksimal dan beberapa belum sempat merasakan makan bareng adik-adik, karena keterbatasan waktu. Namun demikian, insya Allah amanah teman-teman dermawan telah tersampaikan, teriring do'a dari adik-adik panti. Acara diakhiri menjelang isya' dengan dibagikannya "angpau lebaran upin-ipin" kepada 54 anak yang hadir di acara ini.







Project C: Donasi Barang



serah terima donasi dengan pengurus
Sarung, baju koko, dan alat tulis.
Sehubungan dengan project C ini, rupanya tidak banyak teman-teman yang menyalurkan barang untuk didonasikan. Namun ada beberapa kawan yang mengamanahi saya untuk mewujudkan donasinya dalam bentuk barang yang bermanfaat untuk anak-anak Panti Asuhan, sehingga kelebihan dana yang belum teralokasikan untuk takjil serta buka bersama diputuskan untuk dibelikan bingkisan lebaran yang akan diserahkan ke Panti Yatim Indonesia Tebet, selain juga sebagai pengganti buka bersama yang dialihkan ke CIlilitan. Sebanyak 25 buah sarung, 22 baju koko, serta paket alat tulis akhirnya diserahterimakakan kepada pengurus Panti Yatim Indonesia Tebet, pada 12 Agustus 2012, menjelang Ashar. Saya sampaikan titipan terimakasih dari pengurus Panti Yatim Indonesia Tebet kepada teman-teman dermawan. ;)

Untuk penggunaan donasi secara umum (dengan mengingat amanah donatur untuk merahasiakan identitas), berikut laporannya:


Akhir kata,
Jujur, ini adalah Ramadhan paling berkesan. Mimpi saya dan kawan2 untuk berbuat sesuatu bersambut cepat oleh pembaca. Takjub saya dengan solidnya teman-teman relawan serta kemuliaan hati para donatur, yang insya Allah tidak berbalas apa-apa kecuali do'a para penerima santunan yang akan diijabahi Allah dengan balasan yang berlipat-lipat. Saya sebagai pribadi, kepada teman-teman relawan dan donatur mohon maaf atas segala khilaf, atas jamuan yang tidak layak, atas pertanyaan yang tidak terjawab sempurna, atas waktu yang tersita, atas ketidakrapian manajemen, dan mungkin (meski tentu tidak ada kesengajaan) atas amanah yang tidak tepat sasaran. Semoga keringat dan harta yang dibelanjakan di jalan kebaikan bisa memperberat timbangan amal kelak di akhirat.
  
Amien Ya Rabbal 'Alamiin...

Sabtu, 21 Juli 2012

Mencintai orang yang salah


Pada secangkir teh pagi itu, cahaya matamu bercerita.

"Aku mencintai orang yang salah." Kau memulai.

Tidak pernah salah mencintai apapun, ayah, ibu, anak-anak, teman, pacar, guru, presiden bahkan.

Kau menggeleng. "Aku abnormal!!"

Apa....!!
Cangkir teh bergetar, meriakkan isinya.

Kau semakin layu. Wajahmu menunduk dalam. Menghela napas, "Aku mencintai bayangan. Orang dalam bayangan. Orang yang tidak pernah ada."

Kau menyeruput teh. Kau serius, karena tampak cahaya matamu pagi ini kalah oleh matahari yg menerobos di sela tirai.
"Orang itu mencintaiku juga..." kau tertawa getir "...tentu dalam bayanganku."
"Kami saling memikirkan sedang apa di tempat masing-masing. Kami tidak saling bicara. Namun tatapan matanya memberitahu segalanya. Aku berdebar saat tak sengaja berpapasan dengannya pada sebuah kesempatan, dalam bayangan. Aku tersipu mendengarnya bicara pada temanku tentangku, dalam bayangan. Aku menangis, tertawa, ngambek, tersanjung, oleh segala hal yang dia lakukan, dalam bayangan.

Kau memainkan jarimu pada bibir cangkir. Teh sudah hilang uapnya.

"Kami berencana menikah. Dia datang ke rumah. Berbicara serius pada orang tuaku. Kami tidak berbicara apa-apa. Aku hanya mendengarkan dari dalam. Hingga tiba saat pulang, hanya tatapan mata kami saling berpamitan."

Manis sekali. Aku yakin dia pria yang tampan.

Kau mengelak. "Semua itu terjadi dalam bayangan."

"Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa wajahnya. Tidak berani lebih tepatnya. Aku tidak bisa menceritakan dari mana dia berasal. Tidak berani lebih tepatnya. Dia hanya bayangan. Tanpa detail wajah, tanpa asal. Aku bahagia dengannya cukup seperti itu."

Barangkali itu representasi seseorang yang pernah kau temui di dunia nyata.

"Tidak. Aku tidak pernah mengenal siapapun yang bisa mengganggu tidurku sehebat ini. Aku insomnia karena bayangan yang kuciptakan sendiri."

Siapa namanya?

"Dia tidak bernama. Aku mencintainya tanpa predikat, tanpa panggilan, tanpa sebutan. Cukup seperti itu."

Teh di dalam cangkir sudah dingin. butiran daun teh yang lolos dari penyaring telah sepenuhnya tenggelam. 

Aku mengasihimu. Kau yang selalu duduk menghadapku setiap pagi, menimati secangkir teh panas. Bercerita tentang segala hal pada cangkir yang sama setiap hari.
Aku bisa melihatmu melakukan banyak hal, mengalami banyak peristiwa. Seperti kemarin dulu saat laki-laki yang kusimpulkan adalah pacarmu datang. Kalian larut dalam perdebatan, kemudian kemarahan masing-masing meletup.

Dia meneriakimu. Kamu berteriak balik padanya. Dia bersikeras memintamu mengakui, kenapa kamu berubah. Kamu bertahan tidak menjawab hingga tamparan keras laki-laki itu mendarat di pipimu. Ah, kasihan kamu. Air matamu meleleh, namun kau tidak bersuara. Laki-laki itu geram benar sampai tak tahu harus berbuat apa selain meninggalkanmu. Ketika dia hampir di pintu, dengan suaramu serak tertahan, “Aku mencintai laki-laki lain.” Laki-laki itu sudah lelah, dia hanya menggeleng pasrah. Kalian berpisah.

“Aku mencintainya.” Kau mengulanginya pada pagi yang lain. Pada cangkir yang sama.

Sayang, kamu harus bangun. Kamu harus belajar hidup di dunia nyata.

“Tidak ada laki-laki sebaik dia.”

Dia tidak ada.

“Justru dia selalu ada. Dalam setiap bangun dan tidurku.”

Sayang...

“Kami akan menikah.”





_Tebet, 2 Ramadhan 1433 H_

Minggu, 27 Mei 2012

Menyangsikan Pagi


Sore yang terik. Adzan ashar padahal sudah satu setengah jam berlalu. Bu Ida masih sibuk dengan Huda. Sungguh mengajari anak satu itu perlu kesabaran ekstra.

"naa shi ba huu..." tuntun bu Ida.

"na shii..baa.." Huda berpeluh.

bu Ida menggeser posisi duduknya, lebih dekat kepada bocah itu. "naa, panjang Le, dua ketukan. Naa,... "
"naa shii baa huu" suara Huda menggetar. lengkap, semua jadi mad.

perjuangan Huda telah berlangsung limabelas menitan, namun dia masih berkutat dengan panjang pendek huruf nun pada baris ketiga.

di belakang Huda, teman-teman sebayanya yang belum mendapat giliran baca tampak gelisah. Cuaca sepanas itu tidak memungkinkan mereka menunggu sambil bermain di halaman langgar. Jadilah buku iqra' dipakai kipas-kipas. bukan hanya seorang, aksi kipas-kipas dengan buku iqra' terjadi berjamaah. menggelikan.

"panjang pendeknya Le, shad nya pendek, dilihat harakatnya ini lo..." terang bu Ida kembali.
dengan segala daya, "Naa, shi ba huu...", akhirnya Huda berhasil melafalkan sepotong kalimat dengan benar. Jamaah kipas-kipas menghela napas lega, meski harapan bahwa Huda bisa menyelesaikan baris keempat dan kelimanya harus dikemas dengan sabar. Kasak-kusuk mulai terdengar di belakang, ada yang terkekeh melihat Huda, ada yang garuk-garuk tidak punya ide mau menunggu dengan gaya apa.

Bagi bu Ida, Huda adalah tipe anak yang akan selalu ada dalam generasi santri ngaji dimanapun dan kapanpun. Adalah Lik Busro, yang tidak lain adalah paman Huda, dulunya mendapat sebutan anak setan dari para tetangga. Nakal bukan main, ngaji pun bebal bukan main. ketika teman-teman seusianya sudah iqra' enam menjelang Al Quran, Lik Busro pede dengan iqra' duanya. Ketika guru ngaji lain sudah angkat tangan dengan perangai Lik Busro, Bu Ida mencoba bersabar. selalu kata beliau, "batu sekeras apapun, kalau ditetesi air lama-lama berlubang juga." wa Subhanallah, siapa sangka siapa nyana, Lik Busro sekarang menjadi modin di usianya yang baru tigapuluh, selulusnya dari pesantren di Jombang.

Kupandangi sekumpulan anak-anak itu. Sore ini hanya sembilan orang yang mengaji di langgar. Suci, keponakanku, menjadi pendatang baru. Sejak dhuhur dia sudah mandi, merengek minta diantar ke langgar untuk mengaji. Teringat ketika seumuran Suci aku dan teman-teman sebayaku sering ramai-ramai berlarian ke langgar jika adzan ashar berkumandang. Setiap lewat rumah seorang teman, kami meneriakkan kode “Ji !!” singkatan dari ‘ngaji’, sebagai ajakan untuk bersiap jamaah ashar kemudian mengaji. Teman yang sudah siap akan menyahut “Ji !!” pula. Maka ramailah sore kampung kami dengan Ja Ji Ja Ji sana sini dan suara kecipak sandal jepit massal.

Aku tersenyum sendiri mengenang kebiasaan tujuh belas tahun yang lalu itu.

Langgarlah yang menjadi saksi pergantian generasi di kampung kami. Ketika bu Ida baru pindah ke kampung ini, langgar kala itu menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Langgar yang utamanya merupakan tempat shalat jamaah lima waktu, kadang dimanfaatkan untuk menginap para pemuda kampung yang malas pulang ke rumah usai ngaji kitab atau meronda, selain juga menjadi tempat ibu-ibu rutinan yasin tahlil dan anak-anak belajar iqra'. Dengan semangat mudanya waktu itu, bu Ida ikut turun tangan, mengajar iqra' anak-anak kampung. Generasi TPA berganti tiap dua tahun sekali. Jika dihitung, anak yang mulai di-TPA-kan rata-rata berumur lima tahun. Selesai iqra' enam yang biasanya ditempuh selama setengah tahun, santri melanjutkan Al Quran hingga khatam tiga puluh juz. Jika orang tua sadar agama, anak-anaknya yang telah khatam Al Quran akan diarahkan untuk melanjutkan pendidikan agama di Madrasah Diniyyah terdekat. Kelulusan santri TPA bukan berarti tugas guru TPA selesai, karena ada anak-anak generasi baru yang menunggu ditempa.

Aku masih menunggu di teras ketika anak-anak berhamburan keluar langgar. Sebagian masih antri mencium tangan Bu Ida, termasuk Suci. Tubuhnya yang hanya tiga perempat tinggi kawan-kawannya yang lain membuatnya kesulitan mencapai tangan Bu Ida. Terdesak melulu ke belakang.

“baarakallah..” Bu Ida mengusap-usap kepala Suci sambil menggandeng tangannya menuju aku.

Segera kucium tangan beliau, “Marwah bu,” ujarku mengingatkan. Bu Ida mengernyitkan dahi sejenak menatapku, kemudian, “Marwah sulungnya Pak Sunari?” Aku mengangguk.

“Ya Allah, pangling ibuk, kapan datang?” sambut Bu Ida renyah.

Obrolan pun berlanjut sembari berjalan pulang. Sesekali Langkah Bu Ida terhenti, penyakit pengapuran tulang yang diderita membuat gerak beliau tidak seaktif dulu. Namun demikian, Bu Ida kelihatan bersemangat mendengar ceritaku tentang Jogja, kota yang menahanku selama lima tahun ini. Terkadang beliau merespon dengan helaan khasnya, tertawa lirih, hingga menepuk-nepuk kepala belakangku, seperti yang biasa beliau lakukan dulu, ketika aku masih santri iqra’ Bu Ida. Sambil berkali-kali menarik lengan Suci yang mulai meloncat-loncat tidak stabil di jalan, aku bercerita tentang prestasi-prestasiku selama kuliah, hingga berhasil meraih beasiswa strata dua di kampus yang sama. Dari balik kacamata Bu Ida, kulihat binar matanya, takjub seolah baru mendengar cerita seperti itu seumur hidupnya. Bu Ida mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan formal setelah lulus SD, anaknya pun hanya bersekolah sampai SMP, kemudian bekerja membantu suami Bu Ida di sawah.

Air muka Bu Ida yang ceria seketika berubah sendu saat kusinggung mengenai sedikitnya santri yang tadi hadir di langgar.

“Anak-anak di kampung ini lebih memilih les ketimbang ngaji.” Aku mendengarkan takzim. “ya bagaimana, sekarang sekolah-sekolah kan sudah ples ples. Ada ngajinya sekalian. Ibuk senang kalau pendidikan agama sudah dipentingkan. Tapi ibuk heran kok akhlak anak-anak yang sekolah sampai sore, les di mana-mana, ada yang sampai manggil guru ke rumah, kok ndak tambah baik.” Bu Ida berhenti sejenak, meraba-raba lututnya. Tertawa kecil. “Maklum, produk lama, mulai karatan,...”

Aku merasakan kegetiran dalam tawanya. Suci kusuruh pulang duluan, sementara aku singgah di rumah Bu Ida.

“Dulu ibuk berharap Marwah atau Rizal bisa bantu-bantu ngajar.” Aku menunduk. Rizal, anak cerdas itu, sekarang di Jakarta, mengejar sarjananya. Kami memang sering menjadi contoh untuk santri lain, dikarenakan kemampuan kami menyerap ilmu dengan cepat. Bu Ida memandang nanar ke arah jalan.
“Kayam, anak ibuk satu-satunya ikut suaminya ke Bangil. Wahyudi merantau ke Brunei, adiknya Ahmad sekalian. Busro sama Malik sudah jadi modin dan carik di kampung sebelah. Selain itu... “ bu Ida mendesah. Ada kepahitan dalam kalimatnya. “...anak-anak muda kampung ini sekarang lebih suka jogrogan di kafe. Atau kalau tidak begitu ya sibuk dengan pekerjaan atau sekolahnya.”

Candekolo, nyala merah yang menoreh di langit barat nampak seram. Angin kering sisa hari yang luarbiasa panas mendesau-desau. Seperti buru-buru sembunyi dari petang. Hatiku kian teremas-remas oleh penuturan Bu Ida.

“Ibuk ndak mau melihat Al Quran ditinggalkan sama anak-anak. Meski sedikit, Ibuk ndak papa. Kalau nanti di akhirat ditanya sama Gusti Allah ‘kenapa kampung ini rusak’, semoga Ibuk bukan termasuk orang yang disalahkan. Ibuk bisa ngaji, paling tidak a ba ta, ya sudah menjadi kewajiban untuk mengajarkan kepada orang lain. Alhamdulillah, Gusti Allah masih memberi sehat sama ibuk.” Bu Ida tersenyum sambil menepuk dadanya, berusaha menciptakan image kuat. Aku berusaha tersenyum. Bagaimanalah mataku bisa ditipu oleh gerak langkah kaki Bu Ida dalam perjalanan pulang tadi. Ibuku bilang, penyakit Bu Ida sering membuat beliau tidak bisa berjalan. Pernah karena sudah hampir sepekan Bu Ida istirahat karena penyakitnya, anak-anak libur mengaji. Tidak mau melihat anak-anak terlantar, Bu Ida pun memutuskan untuk mengundang anak-anak mengaji di rumahnya. Saat itu ibuku yang kebetulan sedang menjenguk beliau tidak bisa menahan tangis melihat betapa sulitnya Bu Ida berpindah dari kasur ke lantai, agar bisa menyimak bacaan anak-anak dengan nyaman.

Demi menahan lelehan airmata, kualihkan sebentar pembicaraan Bu Ida. “Anaknya Yu Kayam sudah berapa, Bu?”

Bu Ida menyahut antusias. “dua, yang besar sudah masuk TK. Sudah segininya ibuk.” Memberi isyarat pada bahunya. “haha, anak jaman sekarang cepet besar. Ibuk nanti bisa kalah tinggi lama-lama. Nah yang kecil baru terantanan. Ilham dan Adin namanya. Si Ilham juga sudah lancar mengajinya.”

“Alhamdulillaah,” responku singkat. Hatiku rupanya belum tertata untuk beralih ke topik lain. Kulempar pandangan ke jalan.

“Nduk,” sambung Bu Ida memecah kebisuan, “kalau anak-anak pintar seperti Marwah ini dan Rizal pada pindah semua ke kota, yang di kampung tinggal pemuda yang miskin ilmu, tidak mau bekerja, sukanya hura-hura. Tapi bukan salah siapa-siapa ya, kalian memang harus bersekolah sampai tinggi. Dan sekolah itu cuma bisa didapat di kota besar.” Bu Ida tertawa lagi. Entahlah, seolah berusaha meyakinkanku bahwa beliau baik-baik saja.

“Ibuk bukannya benci dengan anak muda, tapi gimana, kenyataannya begitu. Kang Sunar suaranya sudah klerak-klerek, tapi tidak ada yang lebih muda yang punya kesadaran menggantikannya jadi muadzin. Jamaah magrib sama subuh tinggal sebaris, tua-tua lagi. Ibuk sedih, sering pas pulang dari magrib di langgar disalip rombongan anak muda naik sepeda motor, rame-rame ndak tau mau kemana. Nah rombongan tadi baru ibuk lihat lagi sebelum subuh, pas ibuk sama bapak siap-siap ke langgar. Sering itu, ndak cuma satu dua kali. Coba nduk Marwah lihat, sekarang rame berdiri kafe-kafe kan? Itu isinya pemuda-pemuda kampung semua. Pada karaokean, gitaran, bersenang-senang. Mereka ndak mikir selain yang buat mereka senang. Boro-boro mikirin ummat.” Bu Ida menebah dada. “Duh Gusti...jangan-jangan kami orang-orang tua ini yang salah mendidik anak-anak kami, sehingga rusak begitu.”

Binar mata Bu Ida benar-benar redup sekarang. Beliau menunduk dalam, seperti menahan sesuatu yang bergolak.

 “Nanti kalau ibuk diambil Gusti Allah, siapa ya yang menggantikan ngajar anak-anak ngaji...?” Sampai pada bagian ini, airmataku tidak tertahan lagi.

Adzan maghrib berkumandang. Ya, suara Mbah Sunar yang klerak-klerek itu mengalun melangit petang. Menghalau kawanan burung kembali ke sarang. Merangkum hangat sore jelang malam.

Aku melangkah cepat dengan perasaan kacau. Kampung tempat lahirku, besarku. Kutinggalkan. Apa yang kukejar di Jogja, jika kampungku sendiri tertinggal mengemis harapan? Di Jogja aku terlibat berbagai program pengembangan ummat melalui gerakan-gerakan mahasiswa. Di mataku, pemuda Indonesia sudah mulai banyak memikirkan masa depan bangsa dan agama. Kritis terhadap kebijakan pemerintah, aktif dalam banyak kegiatan sosial. Pemuda yang mana? Aku terlena. Yang demikian adalah sekian kecil persen dari kenyataan kaum muda terpelajar di negeri ini belum menjadi mayoritas. Selebihnya barangkali bernasib sama dengan yang ada di kampungku. Di mana tanggungjawabku sebagai orang yang dikaruniai kesempatan belajar lebih banyak, otak lebih pintar, serta harta lebih ada dari teman-temanku yang lain?

Kalau nanti di akhirat ditanya sama Gusti Allah ‘kenapa kampung ini rusak’, semoga Ibuk bukan termasuk orang yang disalahkan.”

Bukan Bu Ida tentu. Bukan.

Al Quran Surah At Taubah ayat 122 menggaung sepanjang malam dalam benakku,
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Sabtu, 10 Maret 2012

post-it resolusi: bahagia itu sederhana


Awal tahun 2012 kemarin, aku iseng membuat resolusi. Bagaimanalah, usia sudah 23 tapi hidup masih belum rapi. Segera kukumpulkan bahan2 dari toko stationary sebelah kosan: post it, kertas warna, gabus, gunting, lem, double tape, gunting dll.

Demi 2012 lebih tertata. Azzamku. Semangat benar pas bikin, efek keseringan jadi panitia juru dekor di kampus.

Dua kertas gabus beda warna dipasang horizontal di dinding, tepat di atas posisi kepalaku ketika tidur. Halah, sok filosofis gitulah pokoknya, biar azzamnya nempel terus di otak.

Hasilnya, ada duabelas lembar post-it kuning tertempel manis. Isinya kurang lebih apa yang mau kucapai dalam dua belas bulan dalam tahun 2012 ini, secara global, tujuan besar. Nantinya, setiap capaian harus diikuti dengan pencopotan post-it secara resmi. Ketika itu, membayangkannya saja sudah seperti ada ikat kepala putih di kepalaku. Semangaaattt!!!

Hingga Pertengahan Februari kemarin, tiap memandangi tempelan2 itu aku jadi merasa konyol sendiri. Betapa aku termakan euphoria resolusi-resolusian awal tahun. Nir usaha. Terbukti targetku untuk bulan Januari belum tercapai. Bukan,... bukan belum tercapai, tapi tidak juga kuupayakan tercapai.

Maka dari itu, perlu dilakukan akselerasi. Berat sekali rupanya mematuhi jadwal dan target yang kita bikin sendiri. Tiap memulai sesuatu, ada saja gangguan yang berasal dari rasionalisasi rasa malas. Malas kok dirasionalisasi. Meski memang ada hal-hal di luar kendali. Sebut saja keinginan membeli sepeda agar bisa tiap minggu memanfaatkan car free day, serta mendaftar kursus bahasa Inggris, terbentur kebutuhan seorang saudara. Khusus yang kedua, pegimane mau daftar? Biaya kursusnya saja setara tunjangan per bulanku. Bisa puasa dua minggu sahur dan bukanya pake daun itu...

Kecuali kondisi yang diluar kendali, akhir Februari beberapa hal mulai dirapikan. Jadwal harian, pengeluaran, termasuk langkah antisipatif terhadap hal2 insidental yang mengganggu pencapaian target. (note: bahasa ini agak dilebihkan)

Kawan, “man jadda wajada” bukan isapan jempol. Sabtu, 10 Maret 2012 secara bersamaan aku secara resmi mencopot lima post-it. Silakan menyebutku norak, tapi aku girang bukan main. Mencopot lima lembar post-it resolusi berbarengan itu semacam mendapatkan hadiah undian tanpa dipotong PPh final. Mulai tampak hasilnya jadi polisi bagi diri sendiri, patuhi jadwal dan fokus pada cita-cita. Meski lima lembar post-it, benar kata orang, bahwa bahagia itu sederhana. JJJJ

Minggu, 18 Desember 2011

M O T H E R super M O M


Pagi, Januari kesembilan belas. Tiga bulan setelah Benazir Bhutto dilantik sebagai perdana menteri Pakistan, aku melengkapi keluarga ini menjadi bilangan lima. Dia, bapakku, dan dua anak yang mendahului lahir dari rahimnya.


Pagi, tahun ke empat.
Seorang berkacamata berbincang dengannya di ruang tamu. Sebagai balita, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, sejak hari itu, dia selalu berangkat pagi memakai baju PDH bersama bapak, dan pulang hampir sore. Aku kehilangan teman bermain, tinggallah nenek yang menemani. Sejak hari itu, aku menunggunya sempat menidurkanku. Aku hanya menginginkannya, bukan nenek yang membujukku tidur dengan dongeng-dongengnya.


Pagi, tahun ke enam
Aku kecil berlari menggendong tas, melipir jalan raya. Itu adalah hari pertamaku masuk TK. semua antusias dengan hari itu, begitupun aku. Sesaat setelah aku sampai, dua orang berseragam PDH memasuki halaman TK mengendarai sepeda motor, itu dia dan bapakku. Aku kecil tidak ambil pusing, tapi kini aku ingat dan menyadari, bahwa dia dan bapakku sejurus kemudian berlalu, berangkat ke tempat kerja. Dan aku menjadi satu-satunya siswa yang tidak didampingi orang tua pada hari pertama.
Hari-hari kemudian tidak jauh berbeda,  selalu berangkat sendiri, dan pulang sendiri. Pernah suatu hari aku mengeluh, kenapa yang lain selalu dijemput sepulang sekolah, sementara aku harus pulang sendiri berjalan kaki. Esoknya, ketika aku sampai separuh perjalanan pulang, aku bertemu dengannya. Melihatku, dia segera turun dari sepeda, menaikkanku pada sadel belakang, membawa serta aku pulang.


Pagi, tahun ke enam.
Dia dipanggil konferensi di Jakarta. Empat atau lima hari, entahlah aku lupa. Aku tidak begitu dekat dengan bapak, dan karena itulah aku merasa sepi tanpanya. Setiap hari aku menanyakan keadaannya pada bapak, dan selalu dijawab seadanya. Hari ke tiga, ketika dia menelepon, bapak melaporkan kondisi rumah kepadanya, termasuk aku. Kakiku bernanah, dan itu sakit.
Keesokan hari sepulang sekolah, ada setumpukan travel bag di depan kamar. Aku bersorak. Dia izin pulang dari konferensi karena aku sakit, sakit kaki.


Maghrib, tahun ke tujuh
Dia dan kakak laki-lakiku sedang duduk di sofa depan sementara aku di make up. Sejam kemudian, aku menari di atas panggung, dia menungguiku hingga selesai.


Malam, tahun ke sepuluh
Suasana ramai, di sekitarku sudah banyak pengunjung. Tenda tampatku bermalam sejak sehari sebelumnya terasa sesak. Melalui penerangan seadanya, mataku mengitari setiap sudut lapangan, mencari sesuatu. Malam itu semua peserta gladian pemimpin regu pramuka boleh menerima kunjungan dari sanak saudara. Teman2 sereguku sudah saling melepas rindu dengan ayah ibu mereka. Aku masih mencari, meski tahu tidak akan menemukannya.
"Ki.." sapa suara dari balik pagar
Aku menoleh. Hampir senang. Rupanya Bulik dan sepupuku yang sedang berdiri di sana, menyodorkanku seiris semangka. Mereka mengunjungiku, mewakilinya, karena dia sedang dinas ke luar kota. Aku mengucapkan terimakasih sebelum mereka pulang. Sepeninggal bulik, dan sepeninggal pengunjung-pengunjung lain, aku duduk menghadap pagar, di luar tenda, meneteskan air mata.


Pagi, tahun ke dua belas
Dia dan bapak menjemputku. Wajahnya tidak ramah seperti biasa. Sepanjang jalan di bis hingga seharian di rumah, aku tidak diajak bicara semestinya. Dia kecewa. Keinginannya agar aku bisa mengikuti program mondok selama bulan Ramadhan tidak terwujud. Selama di pondok, aku sering menangis di kamar, menyendiri di anak tangga, hingga lebih memilih malas melakukan apa-apa, padahal aku bersama kakak perempuanku. Mendengar pengaduan kakakku itulah, pada hari ke empat aku memaksa pulang.


Malam, tahun ke dua belas
Kuletakkan sendokku begitu saja, tiba-tiba selera makanku hilang, padahal nasi masih beberapa suap kumakan. Dia baru saja memberitahu bahwa pekan depan setelah saat itu dia akan dioperasi rahim. Dua pekan setelahnya lagi, rumahku ramai oleh tetangga yang ingin mengetahui kondisinya, yang sudah hampir sehat.


Malam-malam tahun ke lima belas
Dia sering merintih kesakitan. Bapakku sudah berusaha sana sini agar sakitnya hilang. Aku sering bersembunyi di balik pintu karena tidak tega melihatnya menahan sakit sedemikian hebat. Beberapa pekan kemudian, rumahku kembali ramai oleh orang yang ingin berkunjung mengetahui kondisi ibuku yang sudah hampir sehat, sama seperti dulu kecuali bahwa dia sudah tidak lagi memiliki rahim.


Malam tahun ke enam belas
Melalui ponsel teman, dia sering menghubungiku. Mengirimkan doa-doa. Ketika dua hari kemudian aku pulang membawa berita bahwa aku harus kembali ke Malang untuk babak final, dia pun bercerita.
"Baru tiga hari sampean gak ada, kami sudah seperti orang bingung. Ke sana ke sini ketemunya orang berdua saja. Gimanaa nanti kalau sampean sudah kuliah..." katanya. Bapak mengiyakan tanpa melihatku. Mata bapak menerawang ke arah televisi, tapi aku tahu bahwa pikirannya sedang tidak ada di situ.

Baiklah kawan, perkenalkan, ibuku.
Tidak begitu pandai memasak, namun ajaib, lewat suapan jemarinya, nasi terasa lebih istimewa.
Koleksi jilbab dan tasnya banyak. Ketika aku atau kakak perempuanku kembali ke perantauan masing-masing, koleksinya akan berkurang.
Tidak begitu hobi belanja.
Jiwanya mengajar dan mendidik.
Tidak tegaan.
Cantik, setidaknya di mataku.

Dialah ibuku,
Yang suaranya kunantikan tiap akhir pekan.
Yang kemarahannya sering benar2 jadi musibah, dan restunya menjadi anugerah.

Dialah ibuku,
yang menunda menabung untuk naik haji hingga anak-anaknya lulus kuliah.
yang makan malam paling akhir, setelah yang lain makan.

Dialah ibuku,
yang tidak pernah menyuruhku belajar.
yang justru tertawa ketika nilai-nilaiku jatuh, karena merasa kejatuhan itu biasa saja.

Dialah ibuku,
yang tidak jarang kusakiti, tapi akan segera tersenyum kembali bahkan sebelum kemarahanku hilang.

Dialah ibuku,
Yang wajah dan lambaiannya selalu ada di luar jendela, tiap kereta membawaku kembali ke Jakarta.

Dialah ibuku,
Yang jika aku boleh meminta, akan kumintakan surgaNya untuknya.

Dialah ibuku,
Cahaya.
Cinta.

Sabtu, 10 Desember 2011

Sabtu Lapak Sarmili, Harusnya Aku Lebih Peduli

Yanti (paling kanan)


Yanti, masih ingat dia? adik TPA lapak prihatin, yg beberapa waktu belakangan ini cukup menyita perhatian kami, para pengajar dan eks pengajar TPA Alfalah. Yanti sudah agak lama memutuskan berhenti sekolah. Kabar yang kudengar ada banyak versi, mulai dari cekcok dengan orangtua, masalah dengan teman sekolah, ketiadaan biaya dan sebagainya yang kalau mau diambil benang merah cukup sulit. Itulah sebabnya aku merencanakan sabtu usai talaqqi di An Nashr untuk menemuinya, atau ibunya.

Yanti adalah sulung dari tiga bersaudara, usianya sekitar 13 tahun. Lahir dan besar di lingkungan yang kurang bersahabat, yang mana seharusnya anak seusianya kala itu mendapatkan kasih sayang penuh dari seorang ibun, Yanti justru besar dalam asuhan neneknya sementara sang ibu bekerja sebagai TKI. Ketika adik pertamanya lahir, keluarga Yanti merantau ke Jakarta (Tangerang lebih tepatnya) dan mempertaruhkan segalanya untuk hidup seadanya, benar-benar seadanya.



anak-anak di Saung Bambu Pelangi
Di Lapak Sarmili, sebutan kami untuk sbuah kompleks pemukiman pendatang di kawasan Jurangmangu Timur, Tangerang Selatan, aku dipertemukan Allah dengan anak-anak manis ini, termasuk Yanti dan keluarganya, yang sepertinya memang menjadi keluarga paling dekat di antara warga lapak. Yanti termasuk anak yang cerdas, semangat belajarnya tinggi dan selalu menjadi yang paling depan mengajak teman2 nya yang lain setiap kali kami datang mengajar. Bacaan Alqurannya paling lancar di antara yang lain, dan sampai aku lulus kuliah,Yanti sudah hampir khatam. Melihat potensi dalam diri yanti, aku menaruh harapan besar padanya. Bahwa ia akan menjadi ujung tombak perubahan di Lapak Sarmili. Menjadi contoh tunas muda yang bercita-cita tinggi dan berhasil meraih cita-citanya.

Karenanya, aku mengazzamkan diri, akan melakukan segala cara untuk dapat membantu Yanti dan anak-anak yang lain agar bisa terus sekolah, terus mengaji, melupakan kebiasaan meminta-minta dan pada akhirnya tidak menuruni profesi memulung dari orang tua mereka. Menempuh perjalanan dari kos kosan ke Lapak Sarmili memang melelahkan, bahkan seringkali rasa malas membayangi setiap niatku berangkat. Kalau rasa malas lebih berkuasa dan aku urung berangkat, bisa dipastikan semalaman kemudian hati ini tidak tenang, seperti telah berhutang.

Manusia paling mulia di jagad ini mengatakan bahwa seburukburuk manusia adalah yang tidak menebarkan manfaat atas ilmunya. Astaghfirullah, jika aku sehat, aku berilmu setidaknya bisa membaca abata dan abece, jika aku punya waktu luang, jika aku masih diberi rizqi berupa makanan dan uang, hendakkah aku disebut termasuk dalam barisan orang terburuk menurut Rasulullah dengan memenangkan rasa malas karena cuaca mendung atau terlampau panas?
“mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik”,  kata Anies Baswedan.

Demikianlah, aku sering berangkat dengan kaki berat. Berangkat dengan setengah hati, berangkat dengan setengah nyawa (baru bangun tidur maksudnya), berangkat dengan angan2 ke mana-mana. Meskipun begitu, segala rasa berantakan yang kubawa dari rumah akan sirna dan capek yang kurasakan akan terbayar. Pekikan anak-anak dari jauh sambil berlari kemudian meraih tanganku, menciumnya, atau memelukku, atau menarik lenganku, atau malah menghilang karena malu belum mandi, menghilangkan segan seketika. Meski sering pula kedatanganku dan teman-teman tidak disambut sehangat itu, bahkan aku harus berkeliling mencari anak yang mau diajak ngaji, menunggu mereka selesai mandi. Pernah suatu kali aku berangkat melewati jalan yang masih kering kerontang, pulangnya harus menerjang banjir hampir selutut. Lapak Sarmili berlokasi di samping sungai pembuangan sampah, sehingga setiap ada hujan besar air sering meluber menggenangi permukiman. Sebuah yayasan keagamaan, yang akan kuceritakan lebih jauh di belakang, pernah menginisiasi progam sekolah sanitasi lapangan untuk ibu-ibu Lapak Sarmili. Mereka diajari cara membuat lubang biopori, menanam tanaman per kepala keluarga, dan mendaur ulang sampah plastik menjadi barang-barang berguna. Cukup berhasil, air hujan besar yang mengguyur Jurangmangu belakangan hanya membuat jalan sekitar becek berlumpur.

Lain kesempatan aku menemani anak-anak belajar mata pelajaran umum, membantu mengerjakan PR dan sebagainya. Khusus Yanti, mungkin aku agak bersikap diskriminatif, dan mungkin orang-orang tahu bahwa aku memeperlakukannya “lebih” dari anak-anak yang lain. Setiap PR yang dilaporkannya kepadaku, akan kusambut dengan tawaran bantuan, baik itu mengerjakan bersama-sama di Saung, di Mushola, atau di kosku. Pernah aku bela-bela datang ke lapak malam-malam untuk mengajarinya matematika. Kalau ada kesempatan belajar di kosku, aku sering menghibahkan perlengkapan yang sudah tak terpakai kepadanya. Aku memantau nilai sekolahnya yang alhamdulillah selalu menjadi peringkat pertama di kelas. Entah karena saingannya sama-sama anak yang “asal sekolah” atau karena PR nya sering kubantu atau memang karena dia rajin, entahlah. FYI, Yanti bersekolah di sekolah gratis untuk kaum dhuafa di mana kebanyakan anak yang bersekolah di sana berasal dari keluarga yang kurang mampu yang sayangnya juga kurang mengerti arti penting pendidikan. Aku juga akan menanyai apakah uang sekolahny sudah terbaya, sehingga jika ada kekurangan aku dan teman-teman bisa membantunya. Semua karena aku berharap banyak padanya.

Aku lulus dari STAN, magang di kota kelahiran, sehingga praktis aku kehilangan kontak dengan Yanti dan anak-anak yang lain.
Beberapa waktu lalu aku mendapat laporan dari adik tingkat yang saat ini memegang kepengurusan Alfalah, komunitas pengajar TPA yang kesemuanya mahasiswa STAN, bahwa Yanti sudah lama berhenti sekolah.
Yap, azzamku diuji. Aku sudah menjadi pegawai bergaji cukup, bahkan lebih. Tidak ada alasan lagi seperti ketika masih kuliah dulu aku tidak bisa mengatasinya. Sayangnya, berhentinya Yanti dari sekolah disinyalir bukan karena masalah biaya. Adik tingkatku belum bisa menemukan alasannya pula sampai saat ini. Itulah yang mendorongku untuk sesegera mungkin menemui Yanti atau keluarganya dan membicarakan masalah ini. Jadilah kemarin usai dari An Nashr aku berangkat ke Lapak Sarmili. Pemandangan yang menyambutku agaknya membuat pikiraanku kacau setelahnya.

Yanti memang berlari mendekati dan mencium punggung telapak tanganku seperti biasa setelah melihatku datang dari kejauhan. Lama tidak bertemu, penampilan Yanti lebih modis, di mataku seperti remaja2 populer SMA yang umunya tergabung dalam klub dance atau cheerleaders. Dua buah mobil menunggunya dan beberapa anak lain. Itu adalah mobil jemputan “kakak kakak bule”, sebut mereka. Aku kurang paham dengan penjelasan Yanti mau kemana mereka, yang terdengar sekilas mau tampil, masuk tivi, dance dan apalah aku tidak mengerti. Oya...belum kutuliskan bahwa Yanti konon telah mendapatkan beasiswa untuk bersekolah kembali dari “kakak kakak bule” tersebut. Ketika kutahan dia untuk sejenak berbincang, Yanti memilih untuk tidak berlama-lama. Ibu dan bapak Yanti sedang tidak ada di rumah, dan memang mayoritas warga Lapak Sarmili tidak ada di rumah mereka siang hari. Anak-anak yang sedang libur sekolah, menurut Yanti, ikut pula bersama dua mobil itu. Setelah bersalaman, aku melihat Yanti dan Tina, adiknya menuju mobil jemputan mereka. Akupun berlalu, mengurungkan niat untuk berbincang dengan Yanti dan keluarga.

Jika mereka, kawan-kawan bule itu datang dengan semangat sosial, murni hanya karena dorongan sosial, aku tidak akan sekhawatir ini. Prasangka menyeruak saat hatiku bertanya mungkinkah bahwa mereka adalah orang yang sama dengan para pengajar sekolah sanitasi, badut yang sering mengambil perhatian anak-anak sementara anak-anak harusnya pergi mengaji, dan orang-orang baik yang beberapa kali membawa simbol2 keagamaan. Sudah beberapa kali ada anak mengadukan gelagat sebagian aktivis tersebut tentang kecondongan pada suatu misi agama tertentu. Haruskan aku mencurigai mereka merupakan missionaris? Aku bukan seorang fundamentalis, aku menghargai keberagaman, apalagi jika keberagaman tersebut menciptakan persatuan yang mengarah pada perbaikan. Betapa indahnya jika kita yang berbeda suku dan agama ini bekerjasama. Tapi bukan begini caranya...

Adik-adikku, anak-anakku di Lapak Sarmili sedang kami perjuangkan untuk diperkuat aqidahnya, mengingat kehidupan mereka sangat jauh dari “kesadaran” beragama. Kefakiran mendekatkan kepada kekufuran, itu yang kami khawatirkan. Orangtua mereka sibuk berusaha dan berpikir caranya menyambung hidup, sehingga bisa jadi anak-anak sementara “tersisihkan”. Aku tidak mau melihat Gono dan Mila meminta-minta di sekitar kampus lagi, aku akan sakit hati mendengar salah seorang dari mereka berbicara kasar dan jorok, aku akan merasa gagal kalau tahu Ria mendapat nilai merah, aku tidak mau mendengar kabar Yanti putus sekolah, dan yang paling penting, aku dan teman-teman akan sangat berdosa jika “kehilangan” salah satu anak itu, dalam artian, aqidahnya tercemar, keIslamannya kabur, bahkan memilih berpindah keyakinan di depan mata kami yang lebih asyik dengan dinamisasi kampus dan kantor. Naudzubillah min dzalik. Maafkan aku teman-teman bule, sebenarnya ini bukan kesalahan kalian. Ini kelalaian aku dan teman-teman yang mengentengkan arti saling menanggung dalam persaudaraan Islam. Kalian punya hak mengembangkan sayap “dakwah” secara agama kalian sebagaimana kami wajib, jika memang misi keagamaan menjadi salah satu proyek kalian di Lapak Sarmili. Sekali lagi bukan, ini bukan salah kalian, ini salah kami.

Berjalan gontai di sepanjang Lapak Sarmili-Bintaro, hatiku remuk. Aku lelah menyadari bahwa selama ini aku memperjuangkan anak-anak setengah hati. Lihatlah kawan-kawan bule. Mereka total, all out, berani mengeluarkan anggaran lebih untuk menyenangkan hati anak-anak, mengajak mereka nonton film bersama bahkan main ke Dunia Fantasi, menggelar sekolah sanitasi, mengembangkan bakat minat dan menyalurkannya, serta melatih warga menjadi lebih mandiri dan sadar lingkungan. Aku dan kawan-kawan? Selain mengajar ngaji dan belajar, kami seolah mengalami kebuntuan ide. Penyesalan dan kekhawatiran bercampur.

Wahai Yang Satu, hindarkan kami dari ketidakpedulian dan dari sikap individualis yang membatukan hati dan membutakan mata kami, dari kesusahan saudara-saudara kami. Teguhkanlah kami dan mereka , warga Lapak Sarmili di jalan Mu, berikan kekuatan agar bisa kami rengkuh mereka dengan kehangatan persaudaraan Islam.